MEULABOH 28/07/2026 – Di tengah gegap gempita prosesi Yudisium Angkatan XXI STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh, sebuah pertanyaan sederhana namun menggema di hadapan ratusan lulusan dan sivitas akademika, “Apakah hari ini Saudara benar-benar telah menjadi seorang sarjana?” Pertanyaan itu menjadi pembuka orasi ilmiah Dr. M. Ikhwan, S.Sy., M.H., yang mengajak para lulusan memaknai gelar akademik bukan sebagai garis akhir perjalanan pendidikan, melainkan titik awal pengabdian kepada masyarakat.
Dalam orasi bertajuk “Reaktualisasi Peran Lulusan STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh sebagai Intelektual Muslim yang Kompeten, Adaptif, dan Berdaya Saing”, ia menegaskan bahwa tantangan terbesar dunia saat ini bukanlah kekurangan orang cerdas, melainkan krisis kebijaksanaan yang menyebabkan ilmu kehilangan arah moralnya.
“Dunia memiliki ribuan universitas, jutaan doktor, dan puluhan juta sarjana. Namun, mengapa konflik, korupsi, ketimpangan, kerusakan lingkungan, dan krisis kemanusiaan tetap terjadi? Sebab dunia tidak sedang mengalami krisis kecerdasan. Dunia sedang mengalami krisis kebijaksanaan,” ujar Ikhwan.
Menurut akademisi yang baru saja menyelesaikan studi doktornya bulan lalu itu, pendidikan tinggi tidak boleh berhenti pada pencapaian akademik semata. Gelar, indeks prestasi, maupun kompetensi profesional hanya memiliki makna apabila melahirkan integritas, keberanian moral, dan kepedulian terhadap kemaslahatan publik.
Ia mengingatkan bahwa masyarakat tidak lagi sekadar menilai lulusan dari angka-angka dalam transkrip akademik, yang jauh lebih menentukan adalah kejujuran, keteladanan, kemampuan menghadirkan solusi, serta kesediaan membela nilai-nilai kebenaran.
“Gelar akademik membuka pintu kesempatan. Tetapi hanya karakter yang membuat seseorang tetap dipercaya. Dan kepercayaan adalah mata uang paling berharga dalam setiap peradaban,” tegasnya.
Dalam orasi yang berlangsung sekitar tiga puluhan menit itu, Ikhwan merangkai perspektif Al-Qur’an dengan gagasan para pemikir besar dunia, mulai dari Imam Al-Ghazali, Ibn Khaldun, hingga Syed Muhammad Naquib al-Attas. Benang merah yang dibangunnya sederhana tetapi kuat, Pendidikan Islam harus melahirkan manusia yang berilmu sekaligus beradab.
Ia mengutip pandangan Al-Attas tentang loss of adab sebagai akar krisis peradaban modern. Ketika adab hilang, kata Ikhwan, ilmu kehilangan orientasi, keadilan memudar, dan pendidikan berubah sekadar menjadi mesin pencetak tenaga kerja. “Perguruan tinggi Islam tidak sedang meluluskan orang yang selesai belajar. Perguruan tinggi sedang melahirkan manusia yang memikul amanah peradaban,” katanya.
STAIN Mengutus Penjaga Peradaban
Bagian paling menyentuh dari orasi itu hadir menjelang penutup. Di hadapan para lulusan yang bersiap memasuki dunia kerja, Ikhwan mengingatkan bahwa kampus tidak sedang melepas pencari pekerjaan, melainkan mengutus generasi yang akan menentukan wajah masa depan bangsa yang menjaga peradaban.
“Pergilah dengan ilmu yang rendah hati, iman yang kokoh, akhlak yang mulia, keberanian untuk mengatakan yang benar, keluasan hati untuk merangkul perbedaan, dan keikhlasan untuk melayani tanpa berharap dipuji. Bangun sekolah-sekolah yang melahirkan harapan, lembaga-lembaga yang menjunjung keadilan, keluarga yang menghadirkan kasih sayang, masyarakat yang memuliakan ilmu, dan bangun Indonesia yang bermartabat.” Pesannya.
Kalimat itu kemudian memancing tepuk tangan panjang dari hadirin.
Menurut Ikhwan, ukuran keberhasilan seorang intelektual tidak ditentukan oleh jabatan, kekayaan, maupun popularitas, tetapi oleh sejauh mana ilmunya mampu menghadirkan manfaat bagi masyarakat. Ia menutup orasinya dengan mengajak para lulusan untuk membawa nama baik almamater melalui integritas dalam setiap keputusan hidup. “Nama sebuah perguruan tinggi tidak dibesarkan oleh gedung-gedungnya, melainkan oleh integritas para lulusannya,” ujarnya, sebelum menutup pidato dengan doa agar ilmu para lulusan menjadi ‘ilman nāfi’an dan membawa kemaslahatan bagi agama, bangsa, dan kemanusiaan.
